Rabu, 06 Maret 2013

Wisata Alam di Kab. Gunung Kidul

1. Rest Area Bunder

Rest Area Bunder merupakan suatu kawasan yang dilengkapi bangunan pendopo dengan fasilitas listrik 3000 watt, mushola, air bersi, MCK, tempat bermain anak-anak. Terletak di Kecamatan Playen tepatnya di pinggir jalan raya Yogyakarta-Wonosari atau 30 km dari Yogyakarta, Rest Area Bunder merupakan tempat yang strategis untuk persinggahan dan peristirahatan sementara (stop over)bagi wisatawan yang akan melakukan kunjungan ke Kabupaten Gunungkidul.
Tempat ini merupakan bagian dari kawasan hutan Bunder dan hutan Wanagama. Di kawasan hutan Bunder, selain terdapat rest area juga ada beberapa obyek menarik antara lain: budidaya dan penyulingan minyak kayu putih, budidaya sutra alam, penangkaran rusa, Sendang Mole, dan lokasi perkemahan yang nyaman serta cocok untuk kegiatan outbond.
Sedangkan kawasan hutan Wanagama yang memiliki luas 600 ha merupakan hutan buatan dan sebagai pola percontohan untuk mengembangkan hutan serbaguna khususnya dalam mengatasi lahan kritis dan penghijauan. 
Di kawasan hutan Wanagama juga terdapat Museum Kayu yang unik dan menarik karena terdapat aneka ragam peralatan kayu yang sudah tua umurnya, yaitu barang-barang antik dan langka serta beragam. Di sebelah barat mengalir Sungai Oya yang menambah kesejukan kawasan Rest Area Bunder.

2. Kawasan Karst Pegunungan Sewu

Kabupaten Gunungkidul memiliki topografi karst yang terbentuk oleh proses pelarutan batuan kapur. Bentang alam ini dikenal sebagai Kawasan Karst Pegunungan Sewu yang bentangnya meliputi wilayah kabupaten Gunungkidul, Wonogiri dan Pacitan. Kabupaten Gunungkidul memiliki luas kawasan karst 13.000 km². Bentang alam kawasan karst Gunungkidul sangat unik, hal tersebut dicirikan dengan adanya fenomena di permukaan (eksokarst) dan bawah permukaan (endokarst). 

Fenomena permukaan meliputi bentukan positif, seperti perbukitan karst yang jumlahnya ± 40.000 bukit yang berbentuk kerucut. Bentukan negatifnya berupa lembah-lembah karst dan telaga karst. Fenomena bawah permukaan meliputi goa-goa karst (terdapat 119 goa) dengan stalaktit dan stalakmit, dan semua aliran sungai bawah tanah. Karena keunikan ekosistemnya, maka tahun 1993 International Union of Speleology mengusulkan agar Kawasan Karst Pegunungan Sewu masuk ke dalam salah satu warisan alam dunia. 

Keunggulan tersebut menjadi model yang besar bagi Kabupaten Gunungkidul untuk mengembangkan pariwisata melalui pengelolaan potensi daerah dengan prinsip pembangunan pariwisata berkelanjutan. Sehingga pada tanggal 6 Desember 2004 di Kabupaten Gunungkidul Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mencanangkan wilayah Gunung Sewu dan Gombong Selatan sebagai kawasan Eko karst. Sumberdaya Pariwisata Karst Kabupaten Gunungkidul banyak ragamnya dan memiliki keunikan serta nilai ilmiah tinggi baik berupa pantai pasir putih yang telah berkembang sebagai wisata masal (mass tourism), wisata minat khusus petualangan seperti panjat tebing (di Pantai Siung, Seropan dan Watu Gupit), susur goa (Cerme, Seropan, Bribin, Grubug, Jomblang dan Kalisuci). Wisata sejarah dan religius (Goa Rancang Kencono, Goa Braholo dan Goa Maria Tritis). 

1. Lembah Karst Mulo
 

Secara administrasi obyek geowisata karst Lembah Mulo terletak di desa Mulo Kecamatan Wonosari, dan dapat dicapai dengan mudah hanya berjarak 5 km dari kota Wonosari. Lembah Mulo merupakan salah satu obyek amatan karst yang unik karena merupakan bentukan depresi (lembah) dalam ukuran cukup luas yang mengalami runtuhan ratusan tahun lalu. Kawasan ini merupakan kawasan yang ideal untuk dijadikan Centre of Geotourism Activities Kawasan Karst Gunungkidul, karena selain unik juga dari sisi aspek keruangan sangat strategis yaitu berada di jalur utama wisata Kabupaten Gunungkidul dan terletak di zona tengah kawasan karst Gunungkidul.
 
2. Kalisuci 

Terletak di Desa Pacarejo Kecamatan Semanu, dengan jarak 12 km dari Wonosari. Keunikan yang dijumpai adalah fenomena bentukan bentang alam, karst permukaan berupa bentukan depresi yang runtuh yang membentuk goa-goa vertikal dan bentukan positif berupa bukit karst berbentuk kerucut, sedangkan bawah permukaan berupa aliran sungai bawah tanah yang mengalir melalui goa-goa horisontal yang merupakan suatu sistem aliran sungai bawah tanah yang saling berhubungan satu-sama lain di kawasan karst Gunungkidul. Di kawasan ini wisatawan dapat melakukan aktivitas susur goa dengan menggunakan peralatan khusus seperti perahu karet, tali, dan lain-lain. Wisatawan juga dapat menikmati keindahan goa kalisuci dengan stalaktit dan stalakmit, keindahan dan kesejukan yang menyatu serta petualangan yang penuh tantangan.

3. Telaga Suling / Bengawan Solo Purba
 
Terletak di desa Songbanyu dan desa Pocung, Kecamatan Girisubo, dengan jarak sekitar 50 km dari kota Wonosari. Telaga Suling berupa lembah yang letaknya dekat dengan Pantai Sadeng.Telaga Suling diyakini pada zaman dulu sebagai muara sungai Bengawan Solo purba dengan pemandangan yang indah dan sejuk karena dikelilingi bukit-bukit. Di lokasi ini sangat cocok untuk kegiatan tracking atau jelajah wisata. Dalam perjalanan menuju Pantai Sadeng, jalur aliran sungai Bengawan Solo purba bisa dinikmati pemandangannya. Bekas aliran tersebut berupa dataran rendah yang diapit dua perbukitan tinggi, yang kini menjadi lahan pertanian, sejauh 7 km ke arah utara hingga wilayah Pracimantoro Kabupaten Wonogiri.


3. Hutan Wonosadi dan Gunung Gambar


Hutan Wonosadi dan Gunung Gambar merupakan dua obyek wisata alam yang letaknya berdekatan dan pada saat-saat tertentu secara bersamaan, masyarakat setempat melaksanakan upacara adat SADRANANÃ secara meriah. Hutan Wonosadi merupakan hutan yang terletak di lereng perbukitan di Desa Beji Kecamatan Ngawen, sekitar 18 km dari Wonosari. Hutan yang kaya dengan pohon-pohon langka sampai saat ini masih sangat terjaga kelestariannya.

Gunung Gambar dengan ketinggian 200 mdpl, merupakan obyek wisata spiritual yang berada di Desa Jurangjero Kecamatan Ngawen. Dari puncaknya kita dapat menikmati keindahan Rawa Jombor di Klaten dan Waduk Gajah Mungkur di Wonogiri. Gunung Gambar merupakan tempat bertapa Raden Mas Said/Pangeran Sambar Nyowo selama berperang melawan Belanda.

 Di tempat ini, beliau duduk di atas batu (Watu Kong) yang sampai sekarang masih terlihat di Gunung Gambar, menyusun strategi untuk melawan Belanda, yang kemudian menjadi penguasa Mangkunegaran Surakarta dengan gelar KGPAA Mangkunegara I.

Kesenian yang menarik di daerah ini adalah kesenian RINDING GUMBENG yaitu kesenian dengan menggunakan alat musik dari bambu kecil dan sederhana, namun apabila dimainkan akan muncul suara musik yang bagus, enak didengar dan sangat khas.


4. Pengembangan Wisata Bahari

Daya tarik wisata di Kabupaten Gunungkidul merupakan perpaduan harmonis antara kekayaan alam, kebudayaan tradisional dan cara hidup masyarakatnya. Kebudayaan didasari oleh adat istiadat jawa yang masih alami, sedangkan kekayaan alam mencakup keindahan pantai serta gelombang pantai selatan yang terkenal dengan ombaknya yang besar. Suguhan berupa upacara tradisi budaya juga selalu dilaksanakan tiap tahun diantaranya upacara sedekah laut, pembukaan cupu panjala dan lainnya juga menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan lokal maupun mancanegara.Dengan ditunjang oleh sikap masyarakat yang ramah dan terbuka dalam menerima wisatawan, hal ini diharapkan akan membuat wisatawan merasa diterima dan dihargai.
Panjang garis pantai yang ada sepanjang 97,76 km sangat memungkinkan untuk dikembangkan menjadi objek wisata bahari. Sampai saat ini objek wisata pantai yang ada berjumlah 14 objek. Pemerintah telah membangun akses menuju objek wisata tersebut dengan menyediakan akses jalan dan dapat sampai dibibir pantai.
Pemandangan karang laut, terdapat pasir putih, deburan ombak laut selatan yang khas, hiruk pikuk nelayan tradisional, bentang pegunungan karst, dan warna laut yang biru dan asri merupakan ciri khas kawasan pantai yang ada di Gunungkidul.Jumlah kunjungan wisata rata-rata per tahun antara 15.371 orang- 352.244 orang. Fasilitas pendukung pariwisata yang tersedia saat ini mencakup hotel bintang dua dan hotel non bintang sebanyak 34 unit.
Potensi investasi yang mungkin dikembangkan adalah penyediaan agen perjalanan wisata dan fasilitas pendukung lain yang melayani kebutuhan perjalanan wisatawan, seperti ticketing, paket tour, dokumen perjalanan, konfrence/meeting, transportasi, sewa kendaraan, pemandu perjalanan, cruising, reservasi hotel, dan lainnya. Potensi wisata yang ada merupakan aset yang memiliki nilai jual diminati wisatawan, kondisi ini akan semakin berkembang apabila para investor dapat berpartisipasi dalam menumbuhkan dan membangun sarana dan prasarana wisata yang menunjang kegiatan wisata itu sendiri, seperti hotel untuk paket wisata yang menghabiskan waktu singgah yang cukup lama, restoran dan toko souvenir.


5. Gunung Nglanggeran

Nama Nglanggeran berasal dari kata “Planggaran” yang mempunyai makna setiap ada perilaku jahat pasti tertangkap/ ketahuan. Ada juga yang menuturkan Gunung Nglanggeran berasal dari kata Langgeng artinya desa yang Aman dan Tentram. Selain sebutan Gunung Nglanggeran gunung yang tersusun dari banyak bebatuan ini disebut Gunung Wayang karena terdapat Gunung / bebatuan yang menyerupai tokoh pewayangan. Selain itu menurut kepercayaan adat jawa Gunung Nglanggeran dijaga oleh Kyi Ongko Wijoyo dan Punokawan. Punokawan dalam tokoh pewayangan tersebut diantaranya:     Kyai Semar, Kyai Gareng, Kyai Petruk, Kyai Bagong.

Gunung Nglanggeran / Gunung Api Purba terletak di kawasan Baturagung di bagian utara Kabupaten Gunungkidul dengan ketinggian antara 200-700 mdpl, tepatnya di Desa Nglanggeran Kecamatan Patuk dengan jarak tempuh 17 km dari kota Wonosari dan jarak tempuh 35 km dari kota Yogyakarta. Kawasan ini merupakan kawasan yang litologinya disusun oleh material vulkanik tua dan bentang alamnya memiliki keindahan dan secara geologi sangat unik dan bernilai ilmiah tinggi. Dari hasil penelitian dan referensi yang ada, dinyatakan Gunung Nglanggeran adalah gunung berapi purba.

Ada bangunan joglo di pintu masuk dan bila kita melangkah kejalan setapak untuk mendaki gunung, maka ada 3 bangunan gardu pandang sederhana dari ketinggian yang rendah, sedang sampai puncak gunung. Pemadangan unik dan indah disekelilingnya berupa sawah nan hijau dan tidak jauh dari situ terdapat menara tower dan berbagai stasiun televisi yang jumlahnya cukup banyak, manambah keindahan alam. Lokasi ini sangat cocok untuk rekreasi, panjat tebing, tracking, telusur goa, jelajah wisata dan bekemah. 
Tempat-tempat yang ada di Gunung Nglanggeran : Kalisong, Goa Kaliwiyu, Pohon Obat/Termas, Song Gudel, Gunung Bagong/Tlatar Ombo, Gunung Kelir, Sumber air comberan/Goa Jepang, Tlogo Wungu, Gunung Gedhe, Gunung Bongos, Gunung Buchu, Gunung Blencong, Tlogo Mardidho/ Guyangan, Song Putri, Gunung Pendhem. 

Pantangan yang ada di Gunung Nglanggeran dan sekitarnya: 
  1. Saat melakukan kesenian Wayang Kulit, dalang dilarang/ tidak boleh membelakangi Gunung Nglanggeran.
  2. Cerita Wayang tidak boleh menceriterakan tentang hal Ongko Wijaya yang disakiti.
  3.  Zona bagian Utara Gunung Nglanggeran tidak boleh mengadakan kesenian Wayang Kulit


Gunung Nglanggeran memiliki nilai historis tinggi antara lain :
  1. Dipercaya Gunung Nglanggeran sebagai Gunung Wahyu karena gunung tersebut diyakini sarana meditasi memperoleh wahyu dari Tuhan YME.
  2. Gunung Nglanggeran/ Gunung Wayang secara gaib dikuasai oleh Kyai Ongko Wijoyo.
  3. Terdapat 2 buah Arca disekitar Tlogo Mardhido/ Guyangan yang tubuhnya sampai saat ini masih tersimpan namun tanpa kepala karena kepala dari Arca tersebut terpisah. Dahulu kala arca tersebut merupakan satu kesatuan utuh yang saat dijauhi tersenyum, namun saat didekati berubah kembali menjadi Arca biasa, hal tersebut membuat marah Kyai Tir sehingga menendang kepala arca menjadi terpisah dengan tubuhnya. Tubuh arca dibuang ke sebuah Song Putri. Setelah bertahun-tahun arca tersebut di ambil oleh mbah jogo dan disimpan di depan rumahnya.
  4. Penemuan kepala arca Kyai Kromo Suwito (  Paimin ) sekitar tahun 1956 di sungai plalar, dipekarangan rumahnya, perbatasan antara Desa Nglanggeran dan Ngoro-oro. Kepala patung tersebut melambangkan Dewa Budha dengan kepala perak dan berlapis emas yang sekarang tersimpan di Museum Sono Budoyo Yogyakarta.


6. Air Terjun Srigetuk

Air Terjun Sri Gethuk terdapat di Kabupaten Gunungkidul, atau lebih tepatnya berada di Dusun Menggoran Desa Bleberan, Kecamatan Playen, Gunungkidul, Yogyakarta, Berjarak kurang lebih sekitar 41 km dari Kota Yogyakarta. Lokasi Air Terjun Sri Gethuk cukup terpencil sehingga transportasi menuju ke sana cukup sulit didapat.

Rute untuk bisa sampai di Air Terjun Sri Gethuk dapat ditempuh dari Kota Yogyakarta lewat Jl Wonosari, setelah sampai pertigaan Gading belok kanan menuju Playen, dari Playen cari jalur menuju Paliyan dengan jarak kira – kira 1,5 km setelah itu  akan menjumpai papan penunjuk arah dan  tinggal mengikuti arah menuju ke Objek wisata Air Terjun Sri Gethuk. Air terjun Sri Gethuk yang dahulu oleh penduduk disebut dengan Air Terjun Slempret. Dengan melewati areal hutan kayu putih milik PERHUTANI, kondisi jalan yang bervariasi mulai dari aspal bagus hingga jalan makadam. Memasuki Dusun Menggoran, tanaman kayu putih berganti dengan ladang jati yang rapat. Sesampainya di areal pemancingan yang juga berfungsi sebagai tempat parkir, terdapat dua pilihan jalan untuk mencapai air terjun. Pilihan pertama yakni menyusuri jalan setapak dengan pemandangan sawah nan hijau berhiaskan nyiur kelapa, sedangkan pilihan kedua adalah naik melawan arus Sungai Oya.


7. Goa Kalisuci

Terletak di Dusun Jetis Wetan Desa Pacarejo Kecamatan Semanu, dengan jarak 12 km dari Wonosari, atau berjarak 60 km dari Kota Yogyakarta. Keunikan yang dijumpai adalah fenomena bentukan bentang alam, karst permukaan berupa bentukan depresi yang runtuh yang membentuk goa-goa vertikal dan bentukan positif berupa bukit karst berbentuk kerucut, sedangkan bawah permukaan berupa aliran sungai bawah tanah yang mengalir melalui goa-goa horisontal yang merupakan suatu sistem aliran sungai bawah tanah yang saling berhubungan satu-sama lain di kawasan karst Gunungkidul. 

Kalisuci sebagai obyek wisata minat khusus menawarkan kegiatan cave tubing dengan memadukan dua jenis kegiatan alam bebas yaitu rafting dengan caving menjadi satu paket petualangan, ditambah dengan jeram-jeram yang bisa memacu adrenalin. Pertama dibuka tahun 2009. Dalam cave tubing di Kalisuci, gua yang akan disusuri dalam satu waktu yaitu Gua Suci, Gua Glatikan, Gua Gelung ditambah tracking untuk sampai finish. Sungai-sungai yang mengalir di dalam gua-gua tersebut memiliki lebar yang bervariasi dengan air yang jernih serta dengan kedalaman yang bervariasi pula. 

Selama penelusuran sungai dan penyusuran gua, wisatawan dapat menyaksikan keindahan ornamen gua serta ekosistem yang ada didalamnya. Belum lagi ditambah dengan tanaman perdu dan kelelawar yang bergelantungan di atap gua. Wisatawan memerlukan sekitar 2 jam untuk menelusuri kegelapan sepanjang 600 m. Keindahan stalagtit dan stalagmit serta cericit kelelawar yang bergelantungan diatas langit-langit gua menambah suasana semakin mencengangkan dan menakjubkan. 

Disebut Kalisuci karena di Kalisuci terdapat mata air yang terletak disebelah atas aliran sungai yang airnya jernih dan tetap jernih meskipun air sungai keruh ketika musim penghujan. Sumber mata air ini dulunya merupakan satu-satunya sumber kehidupan masyarakat sekitar. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar