Tampilkan postingan dengan label Wisata Alam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata Alam. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 Maret 2013

Wisata Alam di Kab. Kulon Progo

1. Curug Sidoharjo

Untuk menuju ke obyek wisata  ini hanya bisa dilakukan dengan berjalan kaki ± 500 m dari jalan raya. Sambil berjalan anda bisa menikmati pemandangan yang indah disepanjang jalan diiringi oleh kicauan burung. Curug merupakan obyek wisata yang berupa air terjun dengan ketinggian 75 meter. Disini jika kita beruntung disamping melihat air terjun anda juga akan menemui kera ekor panjang yang bergelantungan di tebing-tebing. Untuk memanjakan pandangan anda, anda bisa naik jalan setapak yang menuju ke atas. Di samping berupa air terjun, di sini anda bisa berpetualang panjat tebing, refling, meluncur ( flying fock ) dengan catatan anda harus membawa peralatan sendiri.  Obyek wisata curug masih bersifat alami dan belum banyak mendapat perhatian. Obyek wisata ini Terletak di Pedukuhan Gorolangu.

2. Watu Segandul

Watu Segandul merupakan obyek wisata yang sangat menarik yaitu adanya batu besar yang terjepit di sungai dan di situ ada gua yang didiami banyak kelelawar. Sebenarnya bukan hanya bentuk batu besar terjepit saja yang menarik, tetapi ketika anda sampai kesana anda akan takjub dengan keindahan alam dengan berbagai ragam jenis tanaman dengan air yang menetes dari atas tebing, dengan juluran-juluran akar dari atas tebing. Indah sekali. Selain bentuk batu yang terjepit disini juga terdapat mata air yang dimanfaatkan oleh Pedukuhan Tetes, Desa Sidoharjo dan Pedukuhan Mengger Malang, Desa Gerbosari. Untuk menuju obyek ini anda harus melewati jalan setapak melalui sungai kecil, dan anda harus berhati-hati karena lokasinya sulit dilalui dan harus memanjat tebing, diharapkan kalau anda datang harus membawa tambang untuk pegangan menaiki tebing. Obyek wisata ini terletak di perbatasan Pedukuhan Nglambur Desa Sidoharjo dengan Pedukuhan Mengger Malang Desa Gerbosari.

3. Kandang Waru, Alang - Alang Kumitir

Obyek wisata ini terletak di Pedukuhan Nglambur, berupa pamandangan alamnya yang   indah dan alami.

4. Puncak Pungangan

Kalau anda mengunjungi puncak Suralaya belum lengkap jika anda belum menaiki puncak Pungangan. Puncak Punganngan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan puncak Suralaya dengan pemandangan yang lebih menarik, jika cuaca cerah anda bisa mengarahkan pandangan kearah mana saja, ke utara, selatan, barat dan timur. Obyek wisata ini terletak di Pedukuhan Nglambur.



5. Batu Gedali Sada

Obyek wisata ini berbentuk batu besar berbentuk cekung menyerupai gua, yang berfungsi sebagai tempat bertapa dan ritual keagamaan jaman dulu. Menurut cerita sebenarnya Gedali sadaa ada dua bagian yang mempunyai fungsi masing-masing, bagian pertama dipergunakan untuk tempat sembahyang  nenek moyang jaman dulu ( kemungkinan agama Hindu dan Budha tetapi belum dapat dipastikan ), bagian kedua dipergunakan untuk tempat Semedi ( bertapa ). Karena terjadi bencana alam sehingga yang bagian pertama hilang, kemungkinan longsor, sehingga saat ini tinggal satu tempat. Untuk saat ini yang satu tempat tersebut masih sering digunakan untuk bertapa. Obyek wisata ini sangat ramai ketika tanggal 1 Muharam ( 1 Sura ) bersamaan dengan ramainya puncak Suralaya. Obyek wisata ini terletak di Pedukuhan Nglambur.

6. Goa Indra Kila

Obyek wisata ini berbentuk batu besar yang menyerupai gua, sama halnya dengan Gedali sada tempat ini sering digunakan untuk bertapa, kebanyakan yang bertapa adalah orang dari luar daerah. Obyek wisata ini terletak di Pedukuhan Nglambur.





7. Tracking

Untuk wisata jenis ini tersedia di 18 Pedukuhan di Desa Sidoharjo dengan pemandangan yang indah dan anda bisa mampir untuk membeli salak dan buah-buahan lainnya langsung dari kebun warga.










8. Gunung Kendil

Gunung Kendil merupakan bagian dari pegunungan menoreh yang menjadi tempat terbaik untuk menikmati indahnya panorama alam berupa perkebunan rakyat dan wilayah sekitar Magelang. Gunung kendil juga menyuguhkan indahnya Candi Borobudur yang tampak berdiri menjulang diantara titik-titik hijau pepohonan.

Wisata Alam : Curug Sidoharjo Samigaluh


Air Terjun Curug Sidoharjo 

 
Air terjun ini berada di Desa Sidoharjo, Kecamatan. Samigaluh, Kulon Progo, Yogyakarta. Jaraknya sekitar 5 km dari Pasar Dekso. MTs Sidoharjo belok ke kiri dan melewati jalan yang menanjak, dan selanjutnya harus melawati jalan setapak di pinggir sawah dan hutan. Sambil berjalan anda bisa menikmati pemandangan yang indah disepanjang jalan diiringi oleh kicauan burung.

Curug ini merupakan obyek wisata yang berupa air terjun dengan ketinggian 75 meter. Disini jika kita beruntung disamping melihat air terjun anda juga akan menemui kera ekor panjang yang bergelantungan di tebing-tebing. Air terjun ini belum mempunyai nama, Masyarakat sekitar menyebutnya sebagai curug saja. Menariknya, curug ini seakan belum terjamah manusia sehingga masih cukup alami keadaannya. Tambah elok dengan hamparan bunga di sekitarnya, Obyek wisata ini Terletak di Pedukuhan Gonolangu.

Rabu, 06 Maret 2013

Wisata Alam di Kab. Gunung Kidul

1. Rest Area Bunder

Rest Area Bunder merupakan suatu kawasan yang dilengkapi bangunan pendopo dengan fasilitas listrik 3000 watt, mushola, air bersi, MCK, tempat bermain anak-anak. Terletak di Kecamatan Playen tepatnya di pinggir jalan raya Yogyakarta-Wonosari atau 30 km dari Yogyakarta, Rest Area Bunder merupakan tempat yang strategis untuk persinggahan dan peristirahatan sementara (stop over)bagi wisatawan yang akan melakukan kunjungan ke Kabupaten Gunungkidul.
Tempat ini merupakan bagian dari kawasan hutan Bunder dan hutan Wanagama. Di kawasan hutan Bunder, selain terdapat rest area juga ada beberapa obyek menarik antara lain: budidaya dan penyulingan minyak kayu putih, budidaya sutra alam, penangkaran rusa, Sendang Mole, dan lokasi perkemahan yang nyaman serta cocok untuk kegiatan outbond.
Sedangkan kawasan hutan Wanagama yang memiliki luas 600 ha merupakan hutan buatan dan sebagai pola percontohan untuk mengembangkan hutan serbaguna khususnya dalam mengatasi lahan kritis dan penghijauan. 
Di kawasan hutan Wanagama juga terdapat Museum Kayu yang unik dan menarik karena terdapat aneka ragam peralatan kayu yang sudah tua umurnya, yaitu barang-barang antik dan langka serta beragam. Di sebelah barat mengalir Sungai Oya yang menambah kesejukan kawasan Rest Area Bunder.

2. Kawasan Karst Pegunungan Sewu

Kabupaten Gunungkidul memiliki topografi karst yang terbentuk oleh proses pelarutan batuan kapur. Bentang alam ini dikenal sebagai Kawasan Karst Pegunungan Sewu yang bentangnya meliputi wilayah kabupaten Gunungkidul, Wonogiri dan Pacitan. Kabupaten Gunungkidul memiliki luas kawasan karst 13.000 km². Bentang alam kawasan karst Gunungkidul sangat unik, hal tersebut dicirikan dengan adanya fenomena di permukaan (eksokarst) dan bawah permukaan (endokarst). 

Fenomena permukaan meliputi bentukan positif, seperti perbukitan karst yang jumlahnya ± 40.000 bukit yang berbentuk kerucut. Bentukan negatifnya berupa lembah-lembah karst dan telaga karst. Fenomena bawah permukaan meliputi goa-goa karst (terdapat 119 goa) dengan stalaktit dan stalakmit, dan semua aliran sungai bawah tanah. Karena keunikan ekosistemnya, maka tahun 1993 International Union of Speleology mengusulkan agar Kawasan Karst Pegunungan Sewu masuk ke dalam salah satu warisan alam dunia. 

Keunggulan tersebut menjadi model yang besar bagi Kabupaten Gunungkidul untuk mengembangkan pariwisata melalui pengelolaan potensi daerah dengan prinsip pembangunan pariwisata berkelanjutan. Sehingga pada tanggal 6 Desember 2004 di Kabupaten Gunungkidul Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mencanangkan wilayah Gunung Sewu dan Gombong Selatan sebagai kawasan Eko karst. Sumberdaya Pariwisata Karst Kabupaten Gunungkidul banyak ragamnya dan memiliki keunikan serta nilai ilmiah tinggi baik berupa pantai pasir putih yang telah berkembang sebagai wisata masal (mass tourism), wisata minat khusus petualangan seperti panjat tebing (di Pantai Siung, Seropan dan Watu Gupit), susur goa (Cerme, Seropan, Bribin, Grubug, Jomblang dan Kalisuci). Wisata sejarah dan religius (Goa Rancang Kencono, Goa Braholo dan Goa Maria Tritis). 

1. Lembah Karst Mulo
 

Secara administrasi obyek geowisata karst Lembah Mulo terletak di desa Mulo Kecamatan Wonosari, dan dapat dicapai dengan mudah hanya berjarak 5 km dari kota Wonosari. Lembah Mulo merupakan salah satu obyek amatan karst yang unik karena merupakan bentukan depresi (lembah) dalam ukuran cukup luas yang mengalami runtuhan ratusan tahun lalu. Kawasan ini merupakan kawasan yang ideal untuk dijadikan Centre of Geotourism Activities Kawasan Karst Gunungkidul, karena selain unik juga dari sisi aspek keruangan sangat strategis yaitu berada di jalur utama wisata Kabupaten Gunungkidul dan terletak di zona tengah kawasan karst Gunungkidul.
 
2. Kalisuci 

Terletak di Desa Pacarejo Kecamatan Semanu, dengan jarak 12 km dari Wonosari. Keunikan yang dijumpai adalah fenomena bentukan bentang alam, karst permukaan berupa bentukan depresi yang runtuh yang membentuk goa-goa vertikal dan bentukan positif berupa bukit karst berbentuk kerucut, sedangkan bawah permukaan berupa aliran sungai bawah tanah yang mengalir melalui goa-goa horisontal yang merupakan suatu sistem aliran sungai bawah tanah yang saling berhubungan satu-sama lain di kawasan karst Gunungkidul. Di kawasan ini wisatawan dapat melakukan aktivitas susur goa dengan menggunakan peralatan khusus seperti perahu karet, tali, dan lain-lain. Wisatawan juga dapat menikmati keindahan goa kalisuci dengan stalaktit dan stalakmit, keindahan dan kesejukan yang menyatu serta petualangan yang penuh tantangan.

3. Telaga Suling / Bengawan Solo Purba
 
Terletak di desa Songbanyu dan desa Pocung, Kecamatan Girisubo, dengan jarak sekitar 50 km dari kota Wonosari. Telaga Suling berupa lembah yang letaknya dekat dengan Pantai Sadeng.Telaga Suling diyakini pada zaman dulu sebagai muara sungai Bengawan Solo purba dengan pemandangan yang indah dan sejuk karena dikelilingi bukit-bukit. Di lokasi ini sangat cocok untuk kegiatan tracking atau jelajah wisata. Dalam perjalanan menuju Pantai Sadeng, jalur aliran sungai Bengawan Solo purba bisa dinikmati pemandangannya. Bekas aliran tersebut berupa dataran rendah yang diapit dua perbukitan tinggi, yang kini menjadi lahan pertanian, sejauh 7 km ke arah utara hingga wilayah Pracimantoro Kabupaten Wonogiri.


3. Hutan Wonosadi dan Gunung Gambar


Hutan Wonosadi dan Gunung Gambar merupakan dua obyek wisata alam yang letaknya berdekatan dan pada saat-saat tertentu secara bersamaan, masyarakat setempat melaksanakan upacara adat SADRANANÃ secara meriah. Hutan Wonosadi merupakan hutan yang terletak di lereng perbukitan di Desa Beji Kecamatan Ngawen, sekitar 18 km dari Wonosari. Hutan yang kaya dengan pohon-pohon langka sampai saat ini masih sangat terjaga kelestariannya.

Gunung Gambar dengan ketinggian 200 mdpl, merupakan obyek wisata spiritual yang berada di Desa Jurangjero Kecamatan Ngawen. Dari puncaknya kita dapat menikmati keindahan Rawa Jombor di Klaten dan Waduk Gajah Mungkur di Wonogiri. Gunung Gambar merupakan tempat bertapa Raden Mas Said/Pangeran Sambar Nyowo selama berperang melawan Belanda.

 Di tempat ini, beliau duduk di atas batu (Watu Kong) yang sampai sekarang masih terlihat di Gunung Gambar, menyusun strategi untuk melawan Belanda, yang kemudian menjadi penguasa Mangkunegaran Surakarta dengan gelar KGPAA Mangkunegara I.

Kesenian yang menarik di daerah ini adalah kesenian RINDING GUMBENG yaitu kesenian dengan menggunakan alat musik dari bambu kecil dan sederhana, namun apabila dimainkan akan muncul suara musik yang bagus, enak didengar dan sangat khas.


4. Pengembangan Wisata Bahari

Daya tarik wisata di Kabupaten Gunungkidul merupakan perpaduan harmonis antara kekayaan alam, kebudayaan tradisional dan cara hidup masyarakatnya. Kebudayaan didasari oleh adat istiadat jawa yang masih alami, sedangkan kekayaan alam mencakup keindahan pantai serta gelombang pantai selatan yang terkenal dengan ombaknya yang besar. Suguhan berupa upacara tradisi budaya juga selalu dilaksanakan tiap tahun diantaranya upacara sedekah laut, pembukaan cupu panjala dan lainnya juga menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan lokal maupun mancanegara.Dengan ditunjang oleh sikap masyarakat yang ramah dan terbuka dalam menerima wisatawan, hal ini diharapkan akan membuat wisatawan merasa diterima dan dihargai.
Panjang garis pantai yang ada sepanjang 97,76 km sangat memungkinkan untuk dikembangkan menjadi objek wisata bahari. Sampai saat ini objek wisata pantai yang ada berjumlah 14 objek. Pemerintah telah membangun akses menuju objek wisata tersebut dengan menyediakan akses jalan dan dapat sampai dibibir pantai.
Pemandangan karang laut, terdapat pasir putih, deburan ombak laut selatan yang khas, hiruk pikuk nelayan tradisional, bentang pegunungan karst, dan warna laut yang biru dan asri merupakan ciri khas kawasan pantai yang ada di Gunungkidul.Jumlah kunjungan wisata rata-rata per tahun antara 15.371 orang- 352.244 orang. Fasilitas pendukung pariwisata yang tersedia saat ini mencakup hotel bintang dua dan hotel non bintang sebanyak 34 unit.
Potensi investasi yang mungkin dikembangkan adalah penyediaan agen perjalanan wisata dan fasilitas pendukung lain yang melayani kebutuhan perjalanan wisatawan, seperti ticketing, paket tour, dokumen perjalanan, konfrence/meeting, transportasi, sewa kendaraan, pemandu perjalanan, cruising, reservasi hotel, dan lainnya. Potensi wisata yang ada merupakan aset yang memiliki nilai jual diminati wisatawan, kondisi ini akan semakin berkembang apabila para investor dapat berpartisipasi dalam menumbuhkan dan membangun sarana dan prasarana wisata yang menunjang kegiatan wisata itu sendiri, seperti hotel untuk paket wisata yang menghabiskan waktu singgah yang cukup lama, restoran dan toko souvenir.


5. Gunung Nglanggeran

Nama Nglanggeran berasal dari kata “Planggaran” yang mempunyai makna setiap ada perilaku jahat pasti tertangkap/ ketahuan. Ada juga yang menuturkan Gunung Nglanggeran berasal dari kata Langgeng artinya desa yang Aman dan Tentram. Selain sebutan Gunung Nglanggeran gunung yang tersusun dari banyak bebatuan ini disebut Gunung Wayang karena terdapat Gunung / bebatuan yang menyerupai tokoh pewayangan. Selain itu menurut kepercayaan adat jawa Gunung Nglanggeran dijaga oleh Kyi Ongko Wijoyo dan Punokawan. Punokawan dalam tokoh pewayangan tersebut diantaranya:     Kyai Semar, Kyai Gareng, Kyai Petruk, Kyai Bagong.

Gunung Nglanggeran / Gunung Api Purba terletak di kawasan Baturagung di bagian utara Kabupaten Gunungkidul dengan ketinggian antara 200-700 mdpl, tepatnya di Desa Nglanggeran Kecamatan Patuk dengan jarak tempuh 17 km dari kota Wonosari dan jarak tempuh 35 km dari kota Yogyakarta. Kawasan ini merupakan kawasan yang litologinya disusun oleh material vulkanik tua dan bentang alamnya memiliki keindahan dan secara geologi sangat unik dan bernilai ilmiah tinggi. Dari hasil penelitian dan referensi yang ada, dinyatakan Gunung Nglanggeran adalah gunung berapi purba.

Ada bangunan joglo di pintu masuk dan bila kita melangkah kejalan setapak untuk mendaki gunung, maka ada 3 bangunan gardu pandang sederhana dari ketinggian yang rendah, sedang sampai puncak gunung. Pemadangan unik dan indah disekelilingnya berupa sawah nan hijau dan tidak jauh dari situ terdapat menara tower dan berbagai stasiun televisi yang jumlahnya cukup banyak, manambah keindahan alam. Lokasi ini sangat cocok untuk rekreasi, panjat tebing, tracking, telusur goa, jelajah wisata dan bekemah. 
Tempat-tempat yang ada di Gunung Nglanggeran : Kalisong, Goa Kaliwiyu, Pohon Obat/Termas, Song Gudel, Gunung Bagong/Tlatar Ombo, Gunung Kelir, Sumber air comberan/Goa Jepang, Tlogo Wungu, Gunung Gedhe, Gunung Bongos, Gunung Buchu, Gunung Blencong, Tlogo Mardidho/ Guyangan, Song Putri, Gunung Pendhem. 

Pantangan yang ada di Gunung Nglanggeran dan sekitarnya: 
  1. Saat melakukan kesenian Wayang Kulit, dalang dilarang/ tidak boleh membelakangi Gunung Nglanggeran.
  2. Cerita Wayang tidak boleh menceriterakan tentang hal Ongko Wijaya yang disakiti.
  3.  Zona bagian Utara Gunung Nglanggeran tidak boleh mengadakan kesenian Wayang Kulit


Gunung Nglanggeran memiliki nilai historis tinggi antara lain :
  1. Dipercaya Gunung Nglanggeran sebagai Gunung Wahyu karena gunung tersebut diyakini sarana meditasi memperoleh wahyu dari Tuhan YME.
  2. Gunung Nglanggeran/ Gunung Wayang secara gaib dikuasai oleh Kyai Ongko Wijoyo.
  3. Terdapat 2 buah Arca disekitar Tlogo Mardhido/ Guyangan yang tubuhnya sampai saat ini masih tersimpan namun tanpa kepala karena kepala dari Arca tersebut terpisah. Dahulu kala arca tersebut merupakan satu kesatuan utuh yang saat dijauhi tersenyum, namun saat didekati berubah kembali menjadi Arca biasa, hal tersebut membuat marah Kyai Tir sehingga menendang kepala arca menjadi terpisah dengan tubuhnya. Tubuh arca dibuang ke sebuah Song Putri. Setelah bertahun-tahun arca tersebut di ambil oleh mbah jogo dan disimpan di depan rumahnya.
  4. Penemuan kepala arca Kyai Kromo Suwito (  Paimin ) sekitar tahun 1956 di sungai plalar, dipekarangan rumahnya, perbatasan antara Desa Nglanggeran dan Ngoro-oro. Kepala patung tersebut melambangkan Dewa Budha dengan kepala perak dan berlapis emas yang sekarang tersimpan di Museum Sono Budoyo Yogyakarta.


6. Air Terjun Srigetuk

Air Terjun Sri Gethuk terdapat di Kabupaten Gunungkidul, atau lebih tepatnya berada di Dusun Menggoran Desa Bleberan, Kecamatan Playen, Gunungkidul, Yogyakarta, Berjarak kurang lebih sekitar 41 km dari Kota Yogyakarta. Lokasi Air Terjun Sri Gethuk cukup terpencil sehingga transportasi menuju ke sana cukup sulit didapat.

Rute untuk bisa sampai di Air Terjun Sri Gethuk dapat ditempuh dari Kota Yogyakarta lewat Jl Wonosari, setelah sampai pertigaan Gading belok kanan menuju Playen, dari Playen cari jalur menuju Paliyan dengan jarak kira – kira 1,5 km setelah itu  akan menjumpai papan penunjuk arah dan  tinggal mengikuti arah menuju ke Objek wisata Air Terjun Sri Gethuk. Air terjun Sri Gethuk yang dahulu oleh penduduk disebut dengan Air Terjun Slempret. Dengan melewati areal hutan kayu putih milik PERHUTANI, kondisi jalan yang bervariasi mulai dari aspal bagus hingga jalan makadam. Memasuki Dusun Menggoran, tanaman kayu putih berganti dengan ladang jati yang rapat. Sesampainya di areal pemancingan yang juga berfungsi sebagai tempat parkir, terdapat dua pilihan jalan untuk mencapai air terjun. Pilihan pertama yakni menyusuri jalan setapak dengan pemandangan sawah nan hijau berhiaskan nyiur kelapa, sedangkan pilihan kedua adalah naik melawan arus Sungai Oya.


7. Goa Kalisuci

Terletak di Dusun Jetis Wetan Desa Pacarejo Kecamatan Semanu, dengan jarak 12 km dari Wonosari, atau berjarak 60 km dari Kota Yogyakarta. Keunikan yang dijumpai adalah fenomena bentukan bentang alam, karst permukaan berupa bentukan depresi yang runtuh yang membentuk goa-goa vertikal dan bentukan positif berupa bukit karst berbentuk kerucut, sedangkan bawah permukaan berupa aliran sungai bawah tanah yang mengalir melalui goa-goa horisontal yang merupakan suatu sistem aliran sungai bawah tanah yang saling berhubungan satu-sama lain di kawasan karst Gunungkidul. 

Kalisuci sebagai obyek wisata minat khusus menawarkan kegiatan cave tubing dengan memadukan dua jenis kegiatan alam bebas yaitu rafting dengan caving menjadi satu paket petualangan, ditambah dengan jeram-jeram yang bisa memacu adrenalin. Pertama dibuka tahun 2009. Dalam cave tubing di Kalisuci, gua yang akan disusuri dalam satu waktu yaitu Gua Suci, Gua Glatikan, Gua Gelung ditambah tracking untuk sampai finish. Sungai-sungai yang mengalir di dalam gua-gua tersebut memiliki lebar yang bervariasi dengan air yang jernih serta dengan kedalaman yang bervariasi pula. 

Selama penelusuran sungai dan penyusuran gua, wisatawan dapat menyaksikan keindahan ornamen gua serta ekosistem yang ada didalamnya. Belum lagi ditambah dengan tanaman perdu dan kelelawar yang bergelantungan di atap gua. Wisatawan memerlukan sekitar 2 jam untuk menelusuri kegelapan sepanjang 600 m. Keindahan stalagtit dan stalagmit serta cericit kelelawar yang bergelantungan diatas langit-langit gua menambah suasana semakin mencengangkan dan menakjubkan. 

Disebut Kalisuci karena di Kalisuci terdapat mata air yang terletak disebelah atas aliran sungai yang airnya jernih dan tetap jernih meskipun air sungai keruh ketika musim penghujan. Sumber mata air ini dulunya merupakan satu-satunya sumber kehidupan masyarakat sekitar. 

Wisata Alam di Kab. Bantul

1. Goa Gajah di Desa Mangunan

Goa Gajah Dlingo Bantul Yogyakarta tepatnya berlokasi di Dusun Lemahbang, Desa Mangunan, Kecamatan Dlingo, sekitar 21 kilometer sebelah tenggara Kota Bantul Yogyakarta. Goa ini dapat diakses dari dua arah, pertama melalui jalur Imogiri-Dlingo. Yang ke dua jalur Pathuk-Dlingo-Mangunan.
Bagi Anda yang melalui jalur Imogiri, route yang lazim adalah masuk jalan ke arah makam Raja-raja Imogiri kemudian pada pertigaan akan sampai lokasi makam Raja kanan ambil Jurusan ke Dlingo dan ikuti jalan beraspal hotmix tersebut sekitar 4 km dengan kondisi jalan meananjak sampai di Desa Mangunan, Anda akan menemukan pertigaan (tepatnya pertigaan ini berada di depan komplek Balai Desa dan Puskesmas Mangunan), lurus menanjak ke arah Terong. 

Untuk menuju goa Gajah ini, Anda harus mengambil arah kanan dan mengikuti jalan beraspal hotmix dengan kondisi menurun kurang lebih 1,5 km kondisi jalan berkelok-kelok.Setelah habis jalan menurun ini, (ada gorong-gorong) dan bangunan gardu di kanan jalan, mungkin tak terlihat karena jalan menurun, Anda harus berbelok kanan dan kondisi jalan kondisi tanah liat, ikuti jalan tersebut kurang lebih 1km akan sampai lokasi.

Dari jalur Pathuk-Dlingo-Mangunan, setelah sampai Pasar Dlingo ikuti jalur ini. Hati-hati karena di Jalur kali urang jalan menurun tajam, dan setelah melewati jembatan akan menanjak cukup terjal.Setelah memasuki dukuh Seropan, Anda akan menemukan belokan dan dikiri jalan akan terlihat persawahan, kemudian akan terlihat gorong-gorong, kemudian ambil kiri melewati jalan tanah kondisi tanah liat kurang lebih 1 km sampai lokasi.

Nama goa gajah berasal dari adanya fitur khusus gumpalan batu yang berbentuk menyerupai gajah di dalam goa. Goa ini merupakan goa horisontal dengan kedalaman sekitar 200 meter, kondisi alam goa ini masih cukup alami dengan stalaktit dan stalakmit yang indah di sepanjang goa. Di dalam goa masih banyak ditemukan kelelawar dan air yang terus menetes sehingga membuat dasar goa ini cukup licin untuk dilalui.

Sebaiknya persiapkan alat penerangan yang baik untuk masuk, untuk pengunjung yang tidak kuat dengan bau kotoran sebaiknya menyiapkan penutup hidung karena goa Gajah ini banyak dihuni kelelawar, dan kotoranya banyak dimanfaatkan untuk Rabuk tanaman yang dimanfaatkan warga sekitar, mungkin dialam goa akan banyak ditemukan lobang-lobang kecil bekas pengambilan tanah atau kotoran kelelawar yang dimanfaatkan warga.
Ketika berada didalam, Anda akan disuguhi stalagmit dan stalagtid yang belum terjamah dan terlihat indah. Setelah berjalan beberapa ratus meter, Anda akan menemukan sebuah tempat terbuka di bawah tanah, dan konon menurut legenda disitulah terdapat batu mirip gajah, karena gajah terjatuh kedalam lobang dan mati.

Oleh sebab itu maka oleh warga sekitar, waktu itu kemudian diberi nama Goa Gajah. Untuk kebenaran cerita dari mulut-kemulut ini perlu dikaji lebih jauh. Untuk sekedar melepas lelah tempat ini menawarkan panorama alam dan Goa yang bagus.


2. Goa Cerme di Desa Giritirto

Terletak Dusun Srunggo, Desa Giritirto, Kecamatan Purwosari, Kab. Bantul Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Air Terjun ini terletak dekat dengan wana wisata Goa Cerme.  Konon Goa Cerme sendiri memiliki sejarah panjang sebagai tempat yang sering digunakan oleh Sembilan Wali (Wali songo) serta para pemuka agama Islam untuk bermusyawarah dan mencari inspirasi.

Keberadaan air terjun ini sayangnya kurang diperhatikan sebagai objek wisata, padahal potensinya cukup besar untuk memperkuat daya tarik Goa Cerme itu sendiri.  Sampai saat ini, Air Terjun Goa Cerme dimanfaatkan masyarakat setempat baik untuk kebutuhan harian maupun untuk mengairi pertanian mereka.

Aksesbilitas

Berjarak kurang lebih 25 km dari kota Bantul.  Untuk mencapai air terjun ini harus menempuh perjalanan dari bawah melewati jalan setapak di wilayah Dusun Srunggo. 


3. Goa Jepang di Desa Seloharjo


Goa ini berada di dusun Ngreco, dan Poyahan, Desa Seloharjo, Kecamatan Pundong, Kabupaten Bantul. Gua Jepang merupakan peninggalan Perang Dunia II. Sebagai sarana pertahanan militer ( masa ) Jepang pada tahun. 1942-1945, terutama setelah Jepang mempertahankan diri dari kedatangan sekutu di Indonesia. Terdapat 18 bangunan bunker yang sebagian besar masih dalam keadaan utuh.



SITUS SUROCOLO

Berada di dusun, Poyahan, Seloharjo. Di situs ini terdapat sendang Surocolo dan tiga buah gua yaitu : Gua Surocolo, Gua Tawas, dan Gua Penek. Disekitar situs ditemukan pula arca Mahakala, Jaladwara, batu-batu candi. dan batu- batu Prasasti. Gua Surocolo merupakan peninggalan masa Hindu yang berlanjut sampai masa Islam.


CAGAR BUDAYA


Pleret merupakan kawasan cagar budaya petilasan jaman Mataram Kerto yaitu ibukota Mataram yang sebelumnya di Kotagede. Kraton ini didirikan oleh Sultan Agung. Peninggalan-peninggalan Keraton Kerta dapat dikatakan sangat minim. Peninggalan yang minim itu pun tidak begitu banyak membantu untuk memperkirakan bagaimanakah kira-kira bentuk Keraton Kerta pada zamannya. Potensi fisik yang dipunyai kawasan cagar budaya ini adalah Masjid,sisa-sisa bangunan kraton, tembok keliling, serta makam Ratu Malang di Gunung Kelir.


4. Goa Sunan Mas di Desa 
     Seloharjo

Situs Goa Surocolo  ini terletak di dusun Poyahan, kelurahan seloharjo, Kecamatan Pundong, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Goa ini disebut juga Goa Sunan Mas dikarenakan tempat ini dipergunakan sebagai tempat persembunyian Sunan Amangkurat III atau Sunan Amangkurat Mas sewaktu berkonfrontasi dengan pihak Belanda.
Namun menurut versi yang berbeda keberadaan Sunan Amangkurat di tempat ini memang sedianya untuk bertapa. Sedangkan goa surocolo tersebut merupakan buatan sunan Amangkurat Mas sendiri sebagai tempat pertapaannya. Dan menurut cerita yang beredar sewaktu membuat goa tersebut hadirlah seorang wanita yang bernama Dewi Nawangsasi yang berasal dari Majapahit bersama sang putra yang bernama semar inilah yang kemudian dengan kesaktiannya membantu penyelesaian pembuatan goa surocolo tersebut. Dan kemudian mereka tinggal bersama di Goa yang mereka buat tersebut dan keberadaan dewi Nawangsasi dicari seorang utusan dari Majapahit bernama Jaga Biro dan meminta agar dewi Nawangsasi untuk kembali pulang ke Majapahit. Namun Dewwi Nawansasi menolak dan hal tersebut juga tidak diperbolehkan oleh Sunan Amangkurat Mas. Hal tersebut kedua orang tersebut bertarung dan karena kesaktian keduanya akhirnya pertarungan dilanjutkan dengan adu menyelam di sungai opak. Karena bantuan kyai semar juga akhirnya SUnan Amangkurat Mas  memenangkan pertandingan tersebut dan  Jagabira sendiri dikabarkan melarikan diri ke Candi Gembirawati dan menetap disana. Dan Setelah Sunan Amangkurat ii mangkat Sunan Amangkurat Mas kembali ke Surakarta menggantikan ayahnya menjadi raja Kasunanan Surakarta.
Goa Surocolo berada di sebuah tebing pegunungan di dekat pemukiman desa poyahan. Keberadaan goa mempunyai kedalaman sekitar 6-7 meter  dengan mulut goa berukuran 1,5 m x 1 m dengan ketinggian langit langit goa tertinggi sekitar 7 meter. Selain goa Surocolo disekitar nya juga ditemukan 3 buah goa lain yakni goa kendhil, goa kenek, dan goa tawas. Masih disekitar goa ditemukan beberapa Arca Mahakal, Jaladwara, batu batu candi dan prasasti. 
Dilihat dari keberadaan arca tersebut di duga kuat merupakan peninggalan masa hinduyang berlanjut sampai islam. Didalam goa itu sendiri dahulu terdapat sebuah prasasti yang berisi kronogram yang berbunyi Krtining Pannembah Winayang hing ratu – 1624 yang keberadaanya sekarang telah dibawa ke Museum Jakarta. Sedangkan didepan goa juga terdapat prasasti yang yang terbuat dari batu andhesit dengan ukuran 51 x 24,5 x 12 cm. Walau kondisinya sudah terbelah namun masih sangat jelas gambar wayang Bhatra Gana dengan belali mengangkat kedua belah tanganya mendukung wadah yang berisikan air. Pada tahun 1976 ditemukan juga arca perunggu yang saat ini disimpan di BP3 Yogyakarta.

5. Goa Naga Bumi di Desa Seloharjo
Goa Jepang peninggalan tentara Jepang pada waktu perang dunia ke II tahun 1942-1945 yang berfungsi sebagai basis pertahanan dan pengintaian. Di dalamnya terdapat 1 dapur, 1 bunker dan 14 goa pengintaian. Selain itu terdapat Goa Naga Bumi yang memiliki jalan tembus ke Pantai Parangtritis. Letaknya di atas perbukitan selatan tepatnya di desa Seloharjo, Kevamatan Pundong, Kabupaten Bantul. Lokasi Goa atau bunker ini ada di wilayah Suracala, tempat yang memberikan pemandangan yang indah yakni pemandangan pantai selatan dari Pantai Parang Endog sampai Pantai Pandansimo.

6. Goa Payaman di Desa Argorejo
Gua Payaman sebagai Tempat Wisata yang Nyaman itulah tujuan warga sekitar Goa Payaman untuk mengelola tempat wisata, jelajah alam, hiking, dan sarana bumi perkemahan. Lokasi Goa Payaman terletak di bukit payaman dusun Polaman, Argorejo, Sedayu, Bantul, D.I Yogyakarta.
Untuk menuju Gua Payaman bisa melalui jalan wates, perempatan sedayu, tepatnya jl wates km 14.  Kemudian ke selatan sejauh 3km atau kalo dari jogja belok kiri saja, aksesnya juga tidaklah sulit, semua jalan menuju Goa Payaman sudah dengan aspal maupun semen. Kalo masih kurang jelas cukup tanya saja arah menuju Gua Payaman, pasti warga akan menunjukkan, bahkan jika tidak ada keperluan mereka mau mengantarkan sampai mulut gua.

Goa Payaman dikelola oleh sekelompok anak muda yang peduli lingkungan dan pengembangan dusun dengan label Payaman Managemen. Kelompok pemuda itu kemudian mengembangkan potensi dengan membuka Bumi Perkemahan seluas tiga hektar, dilengkapi dengan berbagai fasilitas umum dan sarana pendukung lainnya, termasuk air bersih yang disalurkan dari sendang dan belik di sekitarnya, dan setelah di buka sekitar setaun lebih yang lalu Goa Payaman sudah sering digunakan untuk camping.

Goa Payaman dan Bumi Perkemahan terletak tidak berjauhan, dan keduanya dijadikan satu sebagai lokasi wisata edukasi, wisata sejarah, dan religi. Kedalaman lorong Goa Payaman sekitar tujuh meter. Terletak di tanahnya Ngadiman yang sekaligus sebagai Juru Kunci.

Selain Goa Payaman, di sekitar juga ada beberapa situs lainnya yaitu Gua Lanang, Watu Payung, Sendang Aneh, Sendang Payaman Wadon, Sendang Payaman Lanang. Konon Air dari dari Sendang Aneh tidak akan mendidih jika dimasak tidak dengan kayu bakar dari pohon sekitar Sendang. Masih ada lagi yaitu watu uyuh, begitulah warga menyebunya, watu artinya batu, uyuh artinya air kencing, berupa dinding batu putih yang berasa asin.






Wisata Alam di Kab. Sleman


1. Berwisata Ria dgn Jeep Willys

Bila anda memasuki wisata kaliurang anda akan di sambut dengan Jeep Willys yang nongkrong di terminal Tlogo Putri yaitu Lava tour atau wisata lahar Merapi menjadi wahana wisata baru di kawasan lereng Gunung Merapi Yogyakarta pasca erupsi Merapi 2010 lalu. Bekas tempat amukan awan panas di mana menewaskan kurang lebih 26 orang termasuk juru kunci Mbah Maridjan. Wisatawan dapat menikmati sisa-sisa kedahsyatan gunung teraktif di Indonesia ini.
Bukan hanya suasana alamnya yang cantik juga panorama yang memikat banyak pengunjung lokal ataupun mancanegara, setelah erupsi Merapi 2010 lalu warga kaliurang membuat fasilitas transportasi menggunakan kendaraan jeep yang biasa di sebut dengan Jeep Wisata Willys. Wisatawan dapat menyusuri kawasan yang pernah dihantam erupsi Merapi.
Tentu berbeda ketika jalan-jalan sendiri dengan sepeda motor atau mobil pribadi, perjalanan lebih berkesan dengan Jeep Willys dan ada tempat tempat yang asyik menuju tempat lokasi yang bisa di bilang menyenangkan dan seperti berpetualang.  Banyak wisatawan terkesan dengan lava tour Jeep Willys rasa penasaran dan berkesan dengan kondisi daerah-daerah di lereng Merapi pascaerupsi Merapi di tambah dengan menggunakan transportasi yang lain dari yang lain.
Banyak sekali wisatawan yang menggunakan jasa jeep willys ini. 
Adapun paket yang tersedia untuk anda :Paket 1

LAVA TOUR
Mengunjungi daerah yang tertimpa lahar Merapi tahun 2010 berawal dari Museum G.Merapi Menuju ke daerah lereng Merapi diantaranya melewati Kali Kuning, kawasan Desa yang diterjang lahar dan awan panas, Kali Opak, Kali Adem (desa) dan Kali Gendol.

Durasi : 90 Menit.
Jarak   : 18 Km
Harga : Rp.250.000,00*
Paket 2

LAVA TOUR 2
Kunjungan Paket 1 ditambah menyusuri Kali Gendol sampai ke Desa Bronggang dampak dari timbunan material G. Merapi dan melewati hunian sementara (shelter) warga yang kehilangan rumah dari dampak erupsi Merapi 2010.

Durasi : 120 Menit
Jarak  :   22 Km
Harga : Rp.350.000,00*

Paket 3

LAVA TOUR 3
Kunjungan Paket 2 ditambah Ziarah Makam Mbah Marijan

Durasi  :180 Menit
Jarak   :  30 Km
Harga  : Rp.500.000,00*

Ket: (*) harga sewaktu2 berubah


2. Wisata Alam di Gunung  
     Merapi

Musim liburan segera tiba. Biasanya, Yogyakarta menjadi tujuan banyak keluarga untuk berlibur. Dari beberapa obyek wisata yang menarik untuk dikunjungi, tak ada salahnya menikmati suasana lereng Merapi, baik siang maupun malam hari.

Jarum jam baru menunjuk pukul 06.48, tetapi sosok Gunung Merapi telah tampak begitu jelas. Kabut yang biasanya menyelimuti hilang berganti cuaca cerah. Sinar matahari pun menerobos sela-sela perbukitan kecil yang ada di kaki gunung dan perlahan mulai menghangatkan udara yang sebelumnya dingin menusuk kulit.

Di puncak, asap sulfatara tipis berwarna putih membubung tinggi. Semakin tinggi, asap yang keluar dari sela-sela kubah lava itu kian memudar tertiup angin yang kebetulan berembus ke selatan. Turun sedikit dari puncak gunung berketinggian 2.986 meter dari permukaan laut (dpl) terlihat alur memanjang hulu Kali Gendol dan Kali Woro yang mengarah ke Kabupaten Sleman di Provinsi DI Yogyakarta dan Klaten di Jawa Tengah.

Alur Kali Gendol terkadang masih menjadi jalan luncuran awan panas skala kecil sisa erupsi tahun 2006 yang belum selesai. Demikian pula dengan ceruk bekas longsoran geger boyo juga masih terlihat jelas di antara kepulan asap sulfatara. Geger boyo atau punggung buaya itu sendiri adalah istilah untuk menyebut kubah lava 1906-1911 (sebelum erupsi 2006, geger boyo sempat menjadi penahan guguran lava dan awan panas ke arah selatan).

Agak ke bawah, hamparan material vulkanik yang terdiri atas bebatuan dan pasir;yang turun bersama awan panas 14 Juni tahun itu tampak menyerupai lahan gundul yang warnanya kontras dengan kawasan vegetasi di sekitarnya. Hamparan material itu menyebar luas, bahkan hingga kawasan obyek wisata Kaliadem yang berjarak sekitar empat kilometer dari puncak.

Saat erupsi tahun lalu, Kaliadem menjadi ujung terjauh dari terjangan awan panas. Kerusakan yang ditimbulkan juga cukup besar dengan korban tewas dua orang. Sekarang suasananya sudah jauh berbeda. Aktivitas masyarakat sudah berjalan seperti biasa. Beberapa perempuan setengah baya tampak berjalan kaki sambil membawa keranjang, berangkat mencari rumput hingga ke bukit-bukit kecil yang jaraknya 1 kilometer-2 kilometer. Sesekali celoteh dan tawanya terdengar riuh, berpadu dengan kicauan burung-burung khas Merapi yang tengah bertengger di dahan.

"Warga sini hampir 90 persen mencari rumput saat pagi dan pulang kembali pukul 11.00. Kalau tidak cukup, sorenya mereka akan kembali lagi ke gunung.
Menarik dikunjungi

Bencana memang telah berlalu meski itu belum berarti kondisinya sudah benar-benar aman. Akan tetapi, wisatawan yang penasaran dengan erupsi masih bisa menjumpai sejumlah "peninggalan" awan panas atau yang biasa disebut masyarakat setempat dengan istilah wedhus gembel. Selain tumpukan material, hal yang cukup menarik adalah bungker tempat perlindungan (tempat kedua korban meninggal akibat temperatur tinggi saat dievakuasi suhu material masih sekitar 400 derajat Celsius). Belasan meter ke arah timur dari bungker, wisatawan bisa melihat sisa-sisa bangunan warung makan dan minuman yang hancur diterjang material. "Awan panas juga menghancurkan beberapa bangunan lain. Dulu di sini ada pendopo besar, Gedung BPPT (Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi), musala, toilet, dan pos keamanan. Semua bangunan itu rata dengan tanah. Yang tersisa tinggal gazebo kecil di tepi Kali Gendol.

Di sebelah timur warung yang rusak, wisatawan bisa melihat alur Kali Gendol yang cukup lebar dengan kedalaman sekitar 50 meter. Pada musim hujan, Kali Gendol menjadi salah satu bagian paling menarik dari erupsi Merapi. Alur kali yang juga terisi material itu menjadi jalur aliran lahar dingin dari arah hulu.

Percampuran air hujan dan material vulkanik (erupsi sekunder) menimbulkan fenomena alam yang menarik, mulai dari bau belerang menyengat, kepulan asap kecoklatan sebagai hasil reaksi kimia, hingga hujan abu yang turun di sekitar kali.

Memasuki musim kemarau seperti sekarang, fenomena itu jarang dijumpai. Yang ada hanya para penambang pasir.


Pemandangan malam dan alternatif

Menikmati Kaliadem sebenarnya tidak harus dilakukan siang hari. Pada malam hari pun suasananya sangat mendukung. Kalau sabar, pengunjung bisa melihat lelehan lava pijar berwarna merah kekuningan, sangat kontras dengan pekatnya malam.

"Kalau tidak punya waktu yang cukup, wisatawan bisa membeli oleh-oleh berupa foto dokumentasi maupun rekaman cakram video kompak (VCD). Harganya Rp 15.000-Rp 20.000 untuk foto dan Rp 30.000-Rp 50.000 untuk VCD.

Setelah puas di Kaliadem, wisatawan bisa mencari obyek wisata alternatif lain. Di sekitar Kaliadem terdapat beberapa obyek wisata yang mengandalkan keelokan alam, seperti alur Kali Kuning ataupun bumi perkemahan Wonogondang yang cukup asri.

Di Kali Kuning, wisatawan akan menjumpai hijaunya pepohonan pinus yang tumbuh di sepanjang alur kali. Di sepanjang alur itu terdapat beberapa titik yang memiliki pemandangan bagus dan biasa dipakai untuk kegiatan berbau alam, seperti out bond. Di kawasan ini juga terdapat banyak penginapan yang bisa disewa dengan harga murah, mulai sekitar Rp 30.000 per malam.

Salah satu titik yang menarik di alur Kali Kuning adalah daerah Plunyon. Selain dam, wisatawan dapat melihat aktivitas penambangan pasir secara tradisional. Banyak juga calon pengantin memanfaatkan keberadaan jembatan kecil berikut kondisi alamnya untuk sesi pemotretan.

Wisatawan yang ingin melakukan kegiatan berbau alam secara beramai-ramai juga bisa memanfaatkan Wonogondang yang mempunyai fasilitas cukup lengkap, mulai dari aula, toilet, hingga penerangan listrik.

Jika belum puas, wisatawan bisa melanjutkan perjalanan ke Kaliurang yang berada di sebelah barat Kaliadem. Di tempat ini, wisatawan bisa menikmati keindahan alam sembari beristirahat lebih nyaman karena terdapat lebih dari 200 hotel dan penginapan.

Kaliurang juga memiliki obyek-obyek menarik untuk dikunjungi, antara lain Tlogo Putri yang menyediakan pentas aneka potensi kesenian Sleman dari dangdut, band, keroncong, campursari, jathilan, dan masih banyak lagi.

Museum Ulen Sentalu yang berisi koleksi berbagai batik dan barang-barang dari keraton Yogyakarta dan Surakarta, serta gardu pandang di Pos Pengamatan Gunung Merapi.

Satu hal yang tidak boleh dilupakan, wisatawan juga bisa menikmati lezatnya makanan lokal khas Kaliurang, seperti jadah dan tempe atau tahu bacem. Makanan lain yang juga menarik adalah sate kelinci. Di Kaliurang, wisatawan juga bisa menemukan hotel bernama Vogels. Pengelola yang sekaligus ketua perhimpunan hotel dan penginapan Kaliurang ini memiliki program unik berupa tracking lava tour untuk melihat lava pijar dari dekat, tetapi aman. 

Akses transportasi

Untuk menuju beberapa obyek wisata yang lokasinya paling utara dari Provinsi DI Yogyakarta ini, wisatawan dapat menempuh beberapa cara. Untuk ke Kaliurang, wisatawan bisa menggunakan kendaraan umum ataupun pribadi dengan jarak 27 kilometer dari Yogyakarta. Adapun untuk ke Kaliadem yang berjarak sekitar 35 kilometer lebih baik menggunakan kendaraan pribadi. Angkutan umum hanyalah mobil-mobil kecil yang jumlahnya sangat terbatas. "Angkutan umum tidak sampai ke Kaliadem. Namun, mereka siap mengantar jika ada biaya tambahan.

Keuntungan lain bila menggunakan kendaraan pribadi adalah lebih fleksibel. Wisatawan lebih mudah berpindah dari satu obyek ke obyek lain. Apalagi, antara Kaliadem, Kali Kuning, hingga Kaliurang, bisa ditempuh dalam satu rute jika menggunakan kendaraan pribadi.


3. Sinolewah Wisata Kemah

Berkemah di sela-sela pohon sengon, sambil menatap Gunung Merapi di kejauhan. Jika punya tenaga berlebih, mengasyikkan jalan-jalan di sekitar "berburu" susu sapi perah. Lalu, bagaimana dengan berapi unggun dalam iringan gamelan?   Sejauh mata memandang, tak tampak keistimewaan tempat itu. Namun, masuk ke dalamnya, mulai tampak daya tariknya, terutama pemandangan di kejauhan yang luar biasa: gunung Merapi dengan keangkuhan dan keangkerannya.

Lahan yang sebelumnya dikenal sebagai kebun jambu dan padang ilalang itu kini telah disulap menjadi tempat wisata berkemah. Namanya Sinolewah, tepatnya di Dusun Gondang, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, DI Yogyakarta. Setiap akhir pekan, tempat itu ramai dikunjungi orang, baik mahasiswa maupun pegawai kantoran. Kalangan mahasiswa datang untuk berkemah, pegawai kantoran biasanya datang untuk mengikuti pelatihan di luar ruangan (outbound). 

Kalau sedang ramai, areal perkemahan itu bisa menampung 1.000 orang. 

Kemah-kemah didirikan di antara pepohonan sengon. Pengunjung ditarik biaya Rp 15.000 per orang per sekali berkemah. Fasilitas yang ditawarkan Sinolewah lumayan memadai. Di tempat itu terdapat delapan rumah pendopo yang biasa dipakai sebagai ruang pertemuan, dan 35 kamar mandi dengan air yang melimpah ruah. Sinolewah menyediakan dapur umum, lengkap dengan peralatan masaknya. 

Pengelola tempat wisata itu juga menyediakan fasilitas penerangan, baik luar maupun dalam ruangan, serta sound system. Bagi yang tidak mempunyai alat telekomunikasi sendiri, tempat itu juga menawarkan warung telekomunikasi. 

YB Sukamto, yang "menyulap" tempat itu menjadi tempat wisata berkemah, mengatakan minimal tiga kali dalam sebulan Sinolewah disewa. Memang, belum tentu dalam jumlah yang besar. "Ada juga yang datang dari kantor tertentu. Tidak melulu pramuka atau anak sekolah. Biasanya, kalau dari kantor-kantor mereka mengadakan kemah dengan out bound. Mereka membawa alat sendiri. Sebagian besar mengatakan, dengan berkemah semangat kerja mereka bangkit," katanya. 

Lokasinya memang strategis. 

Tidak jauh dari Merapi Golf. Dari Sinolewah, sangat memungkinkan melakukan perjalanan ke Kali Kuning yang hanya berjarak sekitar satu kilometer. Dari tempat itu juga bisa mendaki Merapi. "Atau berkunjung ke tempat agribisnis, misalnya taman bunga, tempat budi daya jamur, atau sapi perah," ujarnya. 

Berada pada ketinggian 850 meter di atas permukaan laut, udara Sinolewah sejuk, bahkan dingin bila malam menjelang. Lazimnya, pekemah mengusir hawa dingin dengan membuat api unggun sambil bernyanyi diiringi gitar. Di Sinolewah, iringan gitar bisa diganti dengan iringan gamelan. "Kami bisa menyuguhi pengunjung tari-tarian, wayang, campur sari, organ tunggal, atau jathilan. Ada paket-paket khusus, bisa dipilih. 

Dari pusat Kota Yogyakarta, Sinolewah berjarak sekitar 24 kilometer. 

Bila menggunakan transportasi umum ada beberapa pilihan rute. Pertama, naik angkutan dari Terminal Giwangan, Bantul, selanjutnya naik angkutan jurusan Ngrangkah, Umbulharjo, Cangkringan. Dari jalan utama, Sinolewah berjarak satu kilometer. Kedua, naik angkutan umum jurusan Kaliurang dan turun di Pakem, terus ke jurusan Ngrangkah. 

Sepuluh Tahun Sudah lebih dari sepuluh tahun, Sukamto mengadu nasib di Dusun Gondang, itu. Awalnya ia tidak menyangka lokasi itu bakal dijadikan tempat kemah wisata. Di atas lahan dua hektare yang ia sewa dari pemerintah setempat, pada 1994 itu, ia membabat ilalang yang tumbuh subur. Lahan itu dulunya tidak produktif. Selain ilalang, banyak ditemui pohon jambu.

Ketika itu, yang ada di pikiran hanyalah bertani. Hortikultura saat itu memang dirasa akan lebih banyak memberikan keuntungan. "Kami mengembangkan sektor hortikultura waktu itu, menanam cabai, tomat, jagung manis, selada, sawi untuk bakso. Saya tanami pula sengon laut 1.000 pohon. Hingga kini, saya sudah dua kali memanen pohon sengon," katanya. 

Namun, hortikultura itu hanya bertahan empat tahun. 

Pada awal 1998, ia mengubah lokasi itu menjadi tempat untuk wisata berkemah. "Berawal dari rekan-rekan mahasiswa yang ingin menginap di sini. Mereka lalu mendirikan tenda di sini," ujar pria yang masih membujang pada usianya yang sudah lebih dari 40 tahun itu. 

Dari pengalaman, ia pun melihat peluang bisnis. Selain idenya, ia juga mendapat dukungan dari rekan-rekannya, sebenarnya tempatnya sangat cocok untuk berkemah. Ia lalu melakukan studi di beberapa bumi perkemahan, di Yogyakarta maupun Klaten. "Agar semua pihak puas, saya harus mengetahui apa yang dibutuhkan mereka. Dari bumi perkemahan yang saya kunjungi, saya bisa membandingkan mana yang terbaik. Semua yang baik dari masing- masing tempat saya adopsi," ujarnya. 

Pada awal berdiri, bumi perkemahan itu hanya mempunyai tiga bangunan berupa pendopo. Rumah jawa itu ia beli utuh dari penduduk sekitar. Rata-rata, rumah itu ia tebus dengan harga Rp 3 juta.
Ia harus mengeluarkan Rp 7 juta untuk membuat rumah itu semakin bagus. 

Lokasi Berkemah 

Saat awal berdiri, pada 1998 itu, Sinolewah belumlah laris seperti sekarang ini. Dengan kerja keras, ia berusaha terus memajukan usahanya. Kebanyakan, konsumennya datang setelah mendapat informasi dari rekan-rekan mereka yang lebih dulu kemah. Selain itu, ia juga membuat stiker, kalender, kartu nama, brosur, yang bertuliskan Sinolewah, lengkap dengan nomor telepon dan alamat. Promosi itu dilakukan selama dua tahun. Dan pada 2000, Sinolewah sudah dikenal di seantero Jawa Tengah, khususnya dari Klaten, Solo, Muntilan, Magelang, selain DIY sendiri.

"Sejak itu pengguna merasa cocok dan menjadi langganan setia. 

Kalau mau ke tempat saya, tidak perlu survei lagi, tinggal telepon. Kebanyakan pelanggan saya, pelanggan lama. Saya selalu ngopeni pelanggan, mungkin hanya satu atau dua yang baru," ujarnya. Ia tidak bekerja sendirian. Biasanya, ia dibantu lima orang yang mempunyai keahlian masing-masing, mulai dari ahli listrik sampai yang khusus mengurusi air. Ia sendiri hanya mempunyai satu pekerja tetap. 

"Saya tidak 100 persen mencari untung, saya juga melihat latar belakang mereka. 

Saya terima semua pihak, entah itu sekolah kaya atau tidak. Semua bisa diatur dan bisa dikompromikan," ia menambahkan. 

Sinolewah, tempat wisata berkemah di Yogyakarta. Lokasi perkemahan yang dapat anda kunjungi disekitar Jawa Tengah

Lokasi : 

Dusun Gondang, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, DI Yogyakarta. Tidak jauh dari Merapi Golf.

Direction : 

Pertama, naik angkutan dari Terminal Giwangan, Bantul, selanjutnya naik angkutan jurusan Ngrangkah, Umbulharjo, Cangkringan. 

Dari jalan utama, Sinolewah berjarak satu kilometer. Kedua, naik angkutan umum jurusan Kaliurang dan turun di Pakem, terus ke 

jurusan Ngrangkah.

Fasilitas:

Ada 8 rumah pendopo yang dapat digunakan sebagai ruang pertemuan 35 kamar mandi dengan air yang melimpah ruah. Dapur 

umum,lengkap dengan peralatan masaknya. Penerangan luar maupun dalam Warung telekomunikasi Ketinggian lokasi 850 meter di 

atas permukaan laut (dpl) Udara Sinolewah sejuk bahkan dingin bila malam menjelang.